Aku melihat matamu, tidak ada yang spesial disitu
aku melihat wajahmu, tidak ada yang luar biasa untukku
lalu aku coba mengenali pribadimu dan tidak ada yang sempurna pikirku
Tapi ada yang menarik darimu, namamu begitu akrab bagi temanku
selalu dia memujamu di telinga kananku
kerap dia melirikmu di depan mataku
hingga aku tahu ada yang salah di mataku, ada yang keliru dalam pikiranku
sedikit demi sedikit aku menerjemahkan hatiku dan terurai beberapa kata dariku
Kau sungguh cantik bagiku, aku takut mengenalmu terlalu jauh
lebih jauh lagi diriku selalu luput melupakan namamu
Friday, 5 February 2010
CINTAKU ABADI
Aku selalu memujamu.
hampir setiap waktuku
dan hanya senyumanmu yang mampu
mengartikan,menerjemahkan, dan melukisksan
Sebuah kebahagiaan itu yang harus kutuju
Terdiam kumerenung……
Menatapi detik sebuah jarum jam
Menjalani waktu yang tak pernah berhenti.
Terkejut telingaku.
Ketika dentang jarum jam itu tidak lagi terdengar,
tak akan lagi mampu berdiri
melihat ragaku yang telah berbaring ke utara.
Mugnkinkah kehidupanku akan kembali ?
Akankah cintaku kepadamu sirna ?
Mustahil aku dapat mengulang kembali.
Namun……
Aku, keajaibanku, dan seluruh hasratku
Untuk semua yang telah retak dan berakhir
Aku membuatnya kembali abadi
HIDUPKU
Andai hidupku seperti bunga anggrek
Yang telah mekar. Gembira, diriku tumbuh di sebuah pohon.
Kutahu hanya dengan izinnya, dengan semangat aku singgah di hidupnya yang merasa kekurangan, karna musim kemarau yang panjang, membuatnya harus merelakan pusaka hijau itu berterbangan.
Dan burung-burung tak lagi hinggap, untuk mengiringinya dengan sebuah kicauan melodi penenang.
Entah tak ada yang memantaunya. Apakah ia sedih?
Tidak, ia tetap gembira, karena sekarang dia indah, karna dia diriku hidup untuk menghiasi dirinnya.
Terasa dari lubuk hatinya, yang terlantunkan kata-kata indah. Keinginannya ucapkan kata-kata itu dari gerak-gerik lidahnya
Tapi sulit terucapkan kata :
“Terima Kasih”
Kata itu yang mustahil dapat terpancarkan dari mulutnya untuk diriku, karena tidak ada lagi kemampuan untuk bertahan. Tak lagi dapat hidup dan melihat bagaimana diriku hidup.
Setelah dirinya tidak lagi di dunia ini, di alam lain ia terus berpikir
Dengan jernih mencari sebuah jawaban
Dengan akal sehatnya dia bertanya :
“Apakah kemarau panjang itu yang telah menggugurkan daunku
hingga aku telah tiada. Ataukah bunga anggrek itu. Sungguh anggrek itukah! “
Tersentuhlah hatinya,
dan tak akan berhenti ia meratapi kesedihan ini, jika ternyata dirikulah
yang sudah menjadi benalu dimusim kemarau.
‘Tapi hidupku bukan seperti anngrek itu, melainkan seperti pohon itu‘
KEPERGIAN
Suara srigala yang menggema dimalam hari
Terbawa angin yang berhembus, menelusuri,
Menelusup di pepohonan
Terkejut,
Dahan menggemparkan dedaunan
Sehelai terlepas takut,
Terbang dari rantingnya
Masih
Terbawa angin, kala jatuh
Harus terhempas lagi oleh angin
Inginnya
Menahan hembusan angin
Mengeluarkan seluruh kemampuannya
Untuk tidak mengikuti angin
Kini,
Dia sendiri, terlepas dari tiupan angin
Tersedih, menyesal meninggalkan angin
Mencoba mengejar angin,
Ah,
Tak ada yang bisa, mustahil
Sungguh malang daun itu
Pulang membawa penderitaan
Hanya menangisi kepergian
Selalu dan Selalu
Subscribe to:
Posts (Atom)