Friday, 5 February 2010

HIDUPKU

Andai hidupku seperti bunga anggrek
Yang telah mekar. Gembira, diriku tumbuh di sebuah pohon.
Kutahu hanya dengan izinnya, dengan semangat aku singgah di hidupnya yang merasa kekurangan, karna musim kemarau yang panjang, membuatnya harus merelakan pusaka hijau itu berterbangan.
Dan burung-burung tak lagi hinggap, untuk mengiringinya dengan sebuah kicauan melodi penenang.
Entah tak ada yang memantaunya. Apakah ia sedih?
Tidak, ia tetap gembira, karena sekarang dia indah, karna dia diriku hidup untuk menghiasi dirinnya.
Terasa dari lubuk hatinya, yang terlantunkan kata-kata indah. Keinginannya ucapkan kata-kata itu dari gerak-gerik lidahnya
Tapi sulit terucapkan kata :
“Terima Kasih”
Kata itu yang mustahil dapat terpancarkan dari mulutnya untuk diriku, karena tidak ada lagi kemampuan untuk bertahan. Tak lagi dapat hidup dan melihat bagaimana diriku hidup.
Setelah dirinya tidak lagi di dunia ini, di alam lain ia terus berpikir
Dengan jernih mencari sebuah jawaban
Dengan akal sehatnya dia bertanya :
“Apakah kemarau panjang itu yang telah menggugurkan daunku
hingga aku telah tiada. Ataukah bunga anggrek itu. Sungguh anggrek itukah! “
Tersentuhlah hatinya,
dan tak akan berhenti ia meratapi kesedihan ini, jika ternyata dirikulah
yang sudah menjadi benalu dimusim kemarau.
‘Tapi hidupku bukan seperti anngrek itu, melainkan seperti pohon itu‘

No comments:

Post a Comment

Protected by Copyscape Originality Check